Monday, December 10, 2007

e-commerce -> Pendahuluan

e-Commerce pada dasarnya adalah kegiatan transaksi perdagangan melalui media elektronik. Dampaknya yang signifikan adalah tersingkirnya jejak kertas yang sebelumnya merupakan bagian tak terpisahkan dari transaksi tradisional. e-Commerce juga kerap dipahami sebagai kegiatan distribusi yang dilakukan oleh pelaku usaha di dunia maya untuk menjangkau konsumen akhir, atau dilakukan oleh suatu kegiatan usaha untuk melakukan suatu transaksi dengan kegiatan usaha lainnya.

Dari berbagai jenis kegiatan e-commerce ini kemudian timbul dua jenis konsumen berdasarkan bentuknya, yaitu:

1. Konsumen individual, yang lebih banyak diperhatikan oleh media.
2. Konsumen organisasi, yang sebetulnya paling banyak melakukan kegiatan bisnis di Internet.
3. Konsumen organisasi terdiri dari pemerintah, perusahaan swasta, resellers, organisasi publik. Biasanya konsumen yang berbentuk organisasi ini tidak semata-mata bertindak konsumtif sebagaimana layaknya konsumen akhir. Konsumsi dilakukan untuk membuat produk baru maupun melakukan modifikasi.

Selain berdasarkan bentuknya, konsumen e-commerce dapat juga dibedakan berdasarkan perilaku konsumsinya sebagai berikut:

1. Impulsive Buyers: Konsumen yang ingin cepat-cepat membeli, cenderung gegabah dalam mengkonsumsi produk yang ditawarkan.
2. Patient Buyers: Konsumen yang teliti melakukan komparasi harga dan menganalisa produk yang ditawarkan.
3. Window Shoppers: Konsumen yang sekedar browsing atau surfing saja. B2C, Sorotan Utama Masalah Perlindungan Konsumen dalam E-commerce.

Monday, December 3, 2007

Buruh oh buruh...


Menjadi buruh pabrik memang sengsara, betapa tidak UMR di Kota Tangerang saja Rp. 950 ribu-an sedangkan di Jakarta Rp. 985 ribu-an. Meskipun naik tetap saja masih belum mencukupi kebutuhan standar hidup.

Coba kita hitung-hitung, untuk makan 1 orang saja setiap hari paling tidak mengeluarkan biaya sebesar Rp. 4000,- itu dengan lauk tempe dan sayur saja. Jatah makan selama sebulan paling tidak mencapai 360.000,-. Untuk biaya kos standar Rp. 250.000,-, itu belum termasuk biaya keperluan mandi dengan jatah Rp. 50.000-. Untuk ongkos transportasi, kita alokasikan Rp. 100.000,-.

Jika kita hitung biaya hidup minimal sebulan seorang buruh mencapai Rp. 760.000,-. Jika mendapat gaji sebesar Rp. 980.000 terdapat sisa Rp. 220.000,-. Lumayan yah masih ada sisa, tapi bagaimana jika sudah berkeluarga, yg pasti biaya hidup akan bertambah. Pendidikan dan kesehatan merupakan hal yang sangat mendesak. Sekarang Rp 220 ribu tidak ada harganya, pasalnya harga2x terus merangkak naik seiring dengan tingginya harga minyak mentah dunia.

Yang pasti perusahaan juga akan terbebani dengan kenaikan harga minyak dunia, efisiensi harus dijalankan. salah satu caranya dengan memangkas gaji buruh...

Jadi kapan ya buruh Indonesia dapat hidup lebih layak???

Yang pasti buruh harus terus berpikir bagaimana mereka bisa hidup ketika pensiun tiba... Hal yang sangat ironi...